Gus Mus Dihina Pandu Wijaya “Bid’ah Ndasmu”

Posted on

Apakah anak muda sekarang sudah kehilangan adab terhadap orang yang lebih tua? Meskipun beda pendapat sampaikanlah perbedaan kita tetap dengan santun. Cuitan Gus Mus di twitter tentang para pendemo yang rencana akan dilakukan pada 2 Desember 2016, dengan melakukan shalat Jum’at di jalan protokol Jl. Sudirman Jakarta mendapat tanggapan dari salah satu anak muda dengan akun twitter @panduwijaya_ dengan kata-kata yang tidak pantas, serta menghina tokoh besar NU tersebut.

Beda pendapat adab harus tetap dijaga

Merespon hal tersebut para tokoh muda NU serentak menjawabnya:

akhmad sahal ‏@sahaL_AS: Orang ini > @panduwijaya_ < kasar sekali memaki Gus Mus. Konon sih karyawan BUMN Adhikarya. Cc. @fadjroeL

Ahmad HelmyFaishal Z ‏@Helmy_Faishal_Z:  Semoga engkau bertobat @panduwijaya_ Berlaku tdk sopan terhadap guru kami. Boleh berbeda pendapat,tp tetap jaga akhlaq. Anda sdh kurangajar.

Foto Pandu Wijaya

Setelah ditelusuri akun twitter @panduwijaya_ saat ini dikunci oleh pemiliknya, menurut informasi yang beredar di medsos  yang diambil sebelum akunnya terkunci dia bekerja di bagian Quantity Surveyor/Estimator at CV. Pandu Karya and Quantity system at PT Adhi Karya Tbk, lulusan Poltek Negeri Malang, dan pernah sekolah di SMA 2 Probolinggo, Asal Probolinggo.

Profil Pandu Wijaya

Berikut kultwit Gus Mus serta jawaban anak muda itu:

  1. Aku dengar kabar di ibu kota akan ada Jum’atan di jalan raya. Mudah2an tidak benar.
  2. Kalau benar, wah dalam sejarah Islam sejak zaman Rasulullah SAW baru kali ini ada BID’AH sedemikian besar. Dunia Islam pasti heran.
  3. Kalau benar, apakah dalil Quran dan Hadisnya? Apakah Rasulullah SAW, para sahabat, dan tãbi’iin pernah melakukannya atau membolehkannya?
  4. Kalau benar, apakah salat TAHIYYATAL MASJID diganti salat TAHIYYATAT THÃRIQ atau TAHIYYATASY SYÃRI’?
  5. Kalau kabar itu benar, kepada saudara2ku muslim yg percaya bahwa aku tdk punya kepentingan politik apa pun, kuhimbau untuk memikirkan hal
  6. ini dg pikiran jernih. Setelah itu silakan anda bebas utk melakukan pilihan anda. Aku hanya merasa bertanggungjawab mengasihi saudaraku.
  7. In uriidu illal ishlãha mãs tatha’tu wamã taufiiqii illa biLlãhil ‘Aliyyil ‘Azhiim…(Artinya kurang lebih: Aku hanya berniat (ber)baik semampuku; taufikku hanya dengan pertolongan Allah Yang Maha Luhur dan Agung)

Menurut Gus Mus, hal ini adalah bagian dari mengasihi sesama muslim. Kalau ada yang justru merasa lain, beliau menyerahkan kepada Allah yang Maha Tahu.

Menanggapi cuitan Gus Mus berikut respon dari Pandu Wijaya:

@panduwijaya_ : dulu gk ada aspal gus di padang pasir, wahyu pertama tentang shalat jumat jga saat Rasulullah hijrah ke madinah. Bid’ah Ndasmu.

Cuitan dan balasan Gus Mus

Mungkin saudara Pandu tidak tahu kalau Gus Mus adalah seorang tokoh Islam Nusantara dan NU yang memiliki kearifan dan penuh kasih beliau menulis dalam akun facebooknya sesaat setelah dihina oleh anak kemarin sore itu dengan kata-kata bijaknya:

“Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu janganlah buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan. :-)”.

Gus Mus

Setelah itu kemungkinan karena banyak yang memention dan menasehati dia anak muda itu meminta maaf di akun twitternya @panduwijaya_ “Nyuwun pangapunten atas kesalahan dalem, mugi2 @gusmugusmu lan santriniun maringi ngapunten”.

Dari sini kita bisa mendapatkan sebuah pelajaran: bahwa silahkan aja tidak sependapat dan sejalan dengan pemikiran orang lain namun akhlak dan tata krama yang sesuai agama kita harus di jaga. Ingat mulutmu harimaumu (sumber: salafynews.com)